Jam istirahat….
“Meng, mau makan apa?” tanyaku sesaat setelah bel tanda istirahat berbunyi
“Hmm… apa aja deh. Eh, tapi katanya bakso disitu lumayan enak.” Jawab Melda seraya merekomendasikan bakso favoritnya
“Ah, kamu mah emang sukanya bakso” sahut Yeni, Melda hanya menjawab dengan cengiran kuda. Eh, cowok sinchan itu lewat lagi, Adihhh, senengnya. Tapi, kok dia ke kantin deket toilet ya? Kesana aja deh…
“Heh, aku nggak jadi makan disini dah. Aku mau makan di kantin sana aja” ucapku ngeloyor pergi
“Leh, tadi ngajak kesini sekarang malah ditinggal pergi. Gimana sih?” ucap Niken sebal kepadaku. Tapi si Melda tau alasannya. Kenapa aku mendadak berubah pikiran.
“Udah, ikut aja dah” seloroh Melda mengikutiku dengan langkah lebar-lebar dan ajaibnya dua temanku yang lain juga mengikuti langkah Melda. Singkat cerita nih, aku sama teman-temanku ini makan dikantin deket toilet. Walau rasa makanannya agak aneh dikit, tapi nggak masalah, murah ini. Sampai akhirnya bel masuk sudah berbunyi nyaring memekakan telinga siswa di SMP ini. Detik berganti menit, menitpun berganti dengan jam, akhirnya jam pulang datang juga. Asik, bisa ketemu cowok lucu itu lagi. Dengan sigap kubereskan peralatan tulis dan buku2 yang berserakan di meja, setelah semua beres aku dengan cepat bergegas keluar kelas. Melda hanya tersenyum melihat tingkah konyolku, Ok, It’s My First Love and I can’t forget it!. Tapi, di depan pintu ada yang menghadangku.
“Heh, tadi kamu bilang apa?” tanya cowok bernama Hendrik.
“Tadi? Kapan ya?” aku nggak paham arah pembicaraan cowok ini.
“Sebelum masuk, kata anak-anak kamu bilang aku aneh dan suka tebar pesona kan?” ucap cowok ini tegas.
“Hmmm, itukan menurutku. Kamu harus bisa menghargai penilaian orang lain tentang kamu dong. Jangan memaksakan pandangan kamu tentang dirimu sendiri” ucapku tak mau kalah, dia hanya diam tak bereaksi.
“Ayo Meii keburu ditinggal sama bonmennya loh” ajak Nita.
“Eh, iyaa” jawabku menyusul langkah Nita
Si cowok sinchan udah duduk di kursinya, Nita duduk selang satu kursi dari si cowok sinchan dan celakanya hanya tersisa satu tempat duduk tepat di sebelah kiri si cowok sinchan idolaku itu.
“Nit, tukeran dong” pintaku memohon kepada Nita
“Aku suka pusing Meii kalau nggak deket sama jendela” jawab Nita
Haiisshh, aku paling males kalau dihadapkan pada kondisi seperti ini, mendadak bego, jadi ajaib. Hahhhh, Males aku!
“Hei, kamu kelas satu juga?” tanya si cowok sinchan
“Hu’um, aku kelas 1E, kamu?” ucapku, pura-pura tidak tahu sama sekali tentang dia.
“Tetanggaan berarti aku 1F. Oh, iya namaku Hendrik Davide Pribadi tapi panggil aku Hendrik aja” jelas si cowok sinchan
“Oh, aku pikir kamu udah kelas 2. Tadi waktu istirahat kelihatan akrab bener sama kak Zul” ucapku.
“Iya, dia sepupu dari ibuku” jelasnya
Sejak hari itu aku dan si cowok sinchan jadi akrab, tapi itu hanya bisa dilihat di dalam mobil abonemen… Kalau sudah keluar dari mobil, kita bersikap seperti biasa. Sampai akhirnya….
“Meii, aku boleh bicara serius sama kamu?” tanyanya dengan suara khas remajanya.
“Bo…boleh, mau ngomong apa?” aku bingung, nggak biasanya dia ngomong dengan ekspresi wajah seperti itu
“Mau jadi pacarku?” tanyanya
“Hah??” aku nggak percaya dengan apa yang aku dengar
“MAU JADI PACARKU???” ulangnya
“Mmmm… Iya aku mau” jawabku, dan…
“Yee, akhirnya jadian juga” teriak kak Zul dari kaca mobil, aku hanya tersipu He’s my first boy friend, Ok!